Jumat, 02 Desember 2016

Dimensi Bisnis : Spiritual

Dimensi Bisnis - Dimensi Spiritual


Keberadaan perusahaan diperlukan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Sepanjang masyarakat membutuhkan produk perusahaan, maka perusahaan akan tetap exist. Kegiatan bisnis dalam pandangan Barat tidak pernah dikaitkan dengan agama (kepercayaan), padahal dalam ajaran agama yang dipercayai oleh manusia ada ketentuan yang sangat jelas tentang melakukan kegiatan bisnis. Dalam dimensi spiritual, para pengusaha yang ada di dalam perusahaan memaknai pengelolaan perusahaan sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan, menjadikan perusahaan yang dikelola menjadi sejahtera, sekaligus menjaga dan memelihara kelestarian alam. Namun dalam kenyataannya, masih terdapat banyak pelaku bisnis dan oknum stakeholder yang belum sepenuhnya mengikuti ajaran agama dalam menjalankan praktek bisnisnya.
Spiritualitas bisnis, seperti dari namanya, dibangun dari dua buah kata: spiritualitas dan bisnis. Spiritualitas sendiri menurut kamus Webster artinya attachment to religious values atau dapat pula berarti the state of being spiritual.

Berkarakter spiritual dari kamus yang sama berarti mengandung nilai-nilai religius, atau berkaitan dengan fenomena supernatural, atau bersifat melampaui (transcends) hal-hal yang biasa, natural, atau normal. Jadi dapat dikatakan bahwa hal-hal spiritual adalah hal-hal yang transendental


Transendensi yang artinya proses melampaui batas-batas normal atau melampaui hal-hal yang biasa, adalah kata kunci spiritualitas. Orang yang memiliki spiritualitas dengan demikian adalah orang yang sudah mampu melakukan transendensi (pelampauan) terhadap batas-batas materi biasa, ruang biasa, waktu biasa, lokalitas biasa, pengetahuan biasa, pengalaman biasa, atau kemampuan biasa, tanpa kehilangan karakter “biasa”-nya. Sebagai contoh jika kita bicara tentang spiritualitas bisnis, maka kita bicara tentang konsep-konsep yang beyond business tanpa mengabaikan konsep normal (biasa) bisnis itu sendiri. Dalam kaitan inilah maka spiritualitas sekaligus mengandung makna menuju pada integrasi (kepaduan) dan holisme (keutuhan). Juga boleh dikatakan, lawan dari spritualitas ialah reduksionisme, parokialisme, atau sektarianisme.

Karakter spiritual dalam bisnis menjadi penting karena reduksionisme bisnis menjadi misalnya hanya sekedar uang atau making money saja jelas akan menuju kondisi ketidakseimbangan dan akhirnya menuju krisis dan kemudian keambrukan. Dalam pengertian inilah kita lebih memahami pernyataan terkenal E. F. Schumacher yang mengatakan bahwa semua krisis bermula dari krisis spiritual. Sekarang dapat kita pahami bahwa krisis spiritual berarti macet nya proses-proses transendensi yang kemudian bergerak menuju pemiskinan, pendangkalan, mono-dimensionalisme, dan sekali lagi krisis. Sebaliknya spiritualitas bisnis sebagai hasil transendensi atas segenap aspek-aspek bisnis merupakan proses yang memperkaya, memperdalam, memperluas, mengembangkan multi-dimensionalisme dan pluralisme, serta holisme dan integritas akan mendatangkan kekuatan dan stabilitas serta kemajuan organisme dan ekosistem bisnis itu sendiri. Jadi dengan lugas dapat dikatakan bahwa spiritualitas itu memperkuat kehidupan; sedangkan mengabaikannya berarti memperlemah kehidupan, membawa krisis dan ujungnya kematian


Load disqus comments

0 comments